Profil

Yayasan Prayoga Riau (YPR) adalah yayasan katolik yang bergerak dalam bidang pendidikan yang didirikan oleh Keuskupan Padang. Wilayah kerja Yayasan Prayoga Riau meliputi seluruh   Propinsi Riau yang dibagi dalam 7 Koordinatorat. Sekolah-sekolahnya tersebar di seluruh daratan dan beberapa pulau di selat Malaka.

Pada mulanya Yayasan Prayoga Riau (YPR) bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan dengan nama Yayasan Prayoga Perwakilan Riau dan berpusat di Padang, Sumatera Barat. Mengingat letak geografis kota Pekanbaru yang cukup jauh dengan kota Padang, maka sejak tanggal 1 Agustus 1969 Yayasan Prayoga Perwkilan Riau mempunyai hak otonomi dan tidak lagi terikat dengan pusatnya di Padang.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Yayasan No. 16 / 2001 dan seiring dengan otonomi daerah di seluruh wilayah Indonesia, pada tanggal 24 Juli 2002 Yayasan Prayoga Perwakilan Riau dipisahkan dari Yayasan Prayoga di Padang dan berubah nama menjadi Yayasan Prayoga Riau dan khusus menangani bidang pendididikan saja, sedangkan untuk bidang kesehatan dibentuklah Yayasan Salus Infirmorum.

Yayasan Prayoga Riau disahkan secara resmi pada tanggal 24 Juli 2002 di hadapan Notaris Hanani, S. H. dengan Akta Notaris nomor 76 dan terdaftar dalam berita Negara RI tanggal 17 September 2002 Nomor 75.

Visi Yayasan Prayoga Riau

Mendidik insan Indonesia menghayati kebangsaindonesiaannya dengan nilai-nilai Pancasila; berkepribadian matang dan dewasa; cerdas dan trampil; mampu bersaing secara sehat dalam era global; beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; serta mengamalkan cinta kasih kepada sesama.

Misi Yayasan Prayoga Riau 

  1. Meningkatkan kematangan dan kedewasaan kepribadian, mental, dan spiritual.
  2. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Meningkatkan kecerdasan: intelektual, emosional, spiritual, dan aplikasinya dalam kehidupan
  4. Meningkatkan penghayatan kebangsaindonesiaan.
  5. Meningkatkan penghayatan, pengamalan, dan kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai Pancasila.
  6. Menumbuhkembangkan penghayatan dan perwujudan nilai-nilai humaniora.
  7. Menumbuhkembangkan kebudayaan kehidupan (cinta dan hormat akan kehidupan, anti-abortus, anti-euthanasia, anti-narkoba, anti-seks bebas, cinta lingkungan hidup).
  8. Menumbuhkembangkan penghormatan akan harkat, martabat, dan hak-hak manusia; serta sikap jujur dan adil.
  9. Mengusahakan terwujudnya solidaritas sosial, serta kerukunan intern dan antar umat beragama.
  10. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing; teknologi (pada umumnya) dan informatika.