Foto Bersama, Siswa dan Guru Sekolah Santa Maria Pekanbaru

Pekanbaru — Dalam suasana penuh syukur dan sukacita, keluarga besar Yayasan Prayoga Riau merayakan hari ulang tahun yang ke  57, hari ulang tahun yayasan sebenarnya pada tanggal 1 Agustus namun pada tahun ini perayaan dilakukan pada tanggal 20 Agustus. Sebagai bentuk syukur atas segala pendampingan Tuhan selama ini diungkapkan melalui Misa Syukur Hari Ulang Tahun ke-57 Yayasan Prayoga Riau. Perayaan Ekaristi berlangsung di Dome SMP dan SMA Santa Maria, dan diikuti oleh keluarga besar sekolah dengan penuh khidmat.

Perayaan tersebut diikuti oleh peserta didik kelas 5 dan 6 SD serta seluruh siswa SMP dan SMA Santa Maria. Seluruh guru dan tenaga administrasi sekolah turut hadir dan mengambil bagian dalam perayaan tersebut. Para petugas liturgi pada perayaan ini berasal dari para siswa mulai dari tingkat TK sampai SMA. Para siswa yang telah dipersiapkan oleh para guru untuk mengambil bagian dalam berbagai tugas selama perayaan Ekaristi. Keterlibatan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk belajar melayani, bertanggung jawab dan berani mempersembahkan talenta yang telah mereka terima kepada Tuhan.

Ekaristi Dipimpin oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Bapa Uskup Padang Memimpin Misa 57 tahun YPR

Misa Syukur dipimpin oleh Pembina Yayasan Prayoga Riau Mgr. Vitus Rubianto Solichin, S.X, didampingi oleh Pastor Markus Wala pengawas Yayasan, Pastor Riduan Ketua Yayasan, dan Pastor Otto Kepala paroki Santa Maria a Fatima Pekanbaru. Dalam homilinya, Bapa Uskup mengajak seluruh keluarga besar Yayasan Prayoga Riau untuk memaknai perayaan ulang tahun bukan hanya sebagai sebuah peristiwa seremonial, melainkan sebagai kesempatan untuk kembali menyadari rahmat Tuhan yang telah menyertai perjalanan yayasan selama 57 tahun.

Menurut Bapa Uskup, kehadiran setiap orang dalam perayaan syukur merupakan sesuatu yang penting. Siswa, guru, tenaga administrasi, pengurus yayasan, dan seluruh pihak yang terlibat dalam karya pendidikan memiliki peran masing-masing dalam perjalanan Yayasan Prayoga Riau.

Kehadiran dan partisipasi aktif tersebut merupakan bentuk komitmen sekaligus ungkapan syukur atas berbagai rahmat, keberhasilan, dan pengalaman yang telah dilalui bersama selama perjalanan yayasan.

Bapa Uskup juga mengingatkan bahwa perkembangan sekolah tidak hanya dapat dilihat dari pembangunan fisik maupun berbagai prestasi yang berhasil diraih. Kemajuan tersebut perlu berjalan seiring dengan perjalanan bersama sebagai sebuah komunitas pendidikan.

Perkembangan teknologi, menurut Bapa Uskup, menghadirkan banyak peluang sekaligus tantangan. Teknologi dapat membantu manusia berkembang, tetapi juga dapat membuat seseorang semakin individualistis apabila tidak digunakan secara bijaksana.

Karena itu, kemajuan teknologi dan pembangunan sekolah hendaknya tidak membuat setiap pribadi berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, seluruh keluarga besar sekolah diajak untuk terus membangun kebersamaan, kepedulian, dan semangat untuk berjalan bersama.

 Mengenakan “Pakaian Pesta” yang Pantas

Para siswa yang Bertugas pada Perayaan Ekaristi

Mengacu pada bacaan Injil tentang perumpamaan perjamuan nikah, Bapa Uskup mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan makna “pakaian pesta” yang pantas. Pakaian pesta tidak hanya dimaknai sebagai pakaian yang dikenakan secara lahiriah, tetapi terutama sebagai gambaran tentang sikap hidup dan kesiapan hati seseorang. Menjadi bagian dari keluarga besar Yayasan Prayoga Riau berarti dipanggil untuk mengenakan “pakaian” berupa sikap kasih, kepedulian, tanggung jawab, kerendahan hati, dan kesediaan untuk melayani.

Perayaan 57 tahun Yayasan Prayoga Riau menjadi kesempatan bagi setiap pribadi untuk bertanya kembali: sudahkah kita mengenakan “pakaian pesta” yang pantas dalam menjalankan tugas dan panggilan kita?

Bagi para pendidik, hal tersebut berarti menjalankan tugas mendidik dengan kasih dan kesetiaan. Bagi peserta didik, berarti belajar dengan sungguh-sungguh, menghargai sesama, dan bertumbuh menjadi pribadi yang mampu memberikan diri. Sementara bagi pengurus dan seluruh tenaga kependidikan, menjadi panggilan untuk terus menjaga dan mengembangkan karya pendidikan yang telah dipercayakan Tuhan.

 

57 Tahun: Bersyukur dan Melanjutkan Perjalanan

Misa Syukur ke-57 ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan hari ulang tahun. Perayaan ini menjadi sebuah saat untuk bermenung dan juga saat untuk merencanakan hal-hal baik ke depan. Para guru harus mampu untuk mempersiapkan para siswa agar bisa menghadapi setiap tantangan yang dihadapi ke depan. Tantangan terutama di tengah perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan kebutuhan generasi muda yang terus berubah. Karena itu, semangat yang dibawa dalam perayaan syukur ini adalah semangat untuk terus hadir, mendidik dengan kasih untuk membentuk generasi unggul yang bermartabat mulia.

Pemotongan Kue dan Tumpeng Ulang Tahun YPR ke 57