Bahasa Indonesia | English | French
 

Warta Kampung

Selasa, 1 Desember 2009

 

Sebuah pendopo tua, kecil, dengan kayu-kayu yang sedikit usang dan keropos seakan-akan berubah menjadi sebuah mesin waktu yang membawa siapa saja yang hadir, flashback menuju masa dimana belum ada MTV, play station, maupun empire XXI.  Hampir seluruh warga Kampung Bumen datang memenuhi sekitar pendopo tersebut untuk menikmati kebersamaan acara Malam Pentas Seni dan Penutupan Srawung Kampung.

Lagu-lagu merdu pujian kepada Tuhan Sang Pencipta yang Agung, mengalun dari Grup Sholawatan ibu-ibu Kampung Bumen membuka acara malam itu. Setelah selesai dilanjutkan dengan sambutan-sambutan sebagai formalitas sebuah acara sosial dari pihak-pihak yang berperan dari acara ini. Diantaranya adalah sambutan dari ketua RW 06 Bumen,  ketua Yayasan Pondok Rakyat, dan Bapak Camat Kampung Bumen.

Perasaan lega saat itu merasuki perasaan para penonton ketika acara sambutan-sambutan telah berakhir. Itu tandanya acara hiburan segera dimulai. Dibuka dengan tarian dolanan anak-anak Bumen berkostumkan kaos, jarik dan topi koran. Mereka menari dengan membawa dua buah tongkat bambu yang menghasilkan bunyi-bunyian unik dan dipadukan dengan gendang. Gerakan tubuh anak-anak yang lucu, polos, menghasilkan pertunjukan yang menggemaskan dan mengundang senyum tawa para penonton.

Selanjutnya penonton dibuat terkesima dengan tarian-tarian tradisional seperti Tari Topeng, Tari Badung, dan  Tari Ksatria.  Kampung Bumen boleh bangga akan potensi kesenian maupun potensi ekonomi yang ada.  Dari mulai anak-anak, orang muda, ibu-ibu sampai bapak-bapak banyak yang serius menggeluti kesenian tradisional bahkan ada yang sudah beberapa kali keliling dunia untuk mengajarkan seni tari pada negera yang ia kunjungi. Dia adalah mas Anter, putra dari Bapak Basis Hargito yang akrab dipanggil Pak Bashiran. Aktivis seni budaya yang mendapatkan penghargaan dari Yayasan Kanthil Kotagede.

Potensi seni lain yang tidak kalah menarik dan kreatif datang dari seorang alumni SMM Yogyakarta. Mereka menyuguhkan kreasi musik kontemporer. Perpaduan antara saron, gitar akustik, dan seruling, menghasilkan nada yang eksotik dan emosional layaknya musik penyemangat pertempuran seperti backsound Strong and Strikenya Naruto  yang diisi oleh Toshiro Matsuda.

”THHUUUURRRRRRRRR”, bunyi sebuah jebakan yang sering digunakan oleh anak-anak zaman dulu untuk mengusili kendaraan yang lewat, dibunyikan sebagai tanda bahwa Srawung kampong telah resmi ditutup.  Acara Srawung Kampung yang dimulai dari 1 november dan berakhir malam itu, secara resmi ditutup oleh Bapak Camat Kampung Bumen, yang semula akan ditutup oleh Bapak Wawali Kota Yogya. Mungkin ada sebersit pertanyaan dibenak,  “Lo Srawung Kampung kok ditutup?” “Bukankah seharusnya Srawung Kampung perlu dilestarikan selama-lamanya?!!”. Yeah, meskipun acara ini telah ditutup, namun warisan luhur yang masih melekat pada masyarakat kampung ini harus dilestarikan, diseleksi, dikembangkan, dan ditularkan pada manusia dimanapun mereka berada.

  

Pesta disempurnakan dengan teater tari tradisional dengan alat penerangan berupa obor. Kesenian ini disebut  dengan Srandul. Mengusung cerita seorang puteri yang mencari kekasihnya yang ternyata telah berubah menjadi monyet (kethek ogleng). Khas Srandul Kampung bumen adalah semua pemain diperankan oleh orang muda.  Warga begitu terhibur dengan lawakan-lawakan spontan, dan bahasa tubuh yang dimainkan oleh para pemainnya. Pertunjukkan yang tersinergi dari drama, dagelan, dan tarian ini membawa penonton larut dalam pekatnya malam hingga acara selesai dan kembali pada masa yang sebenarnya.

 

 

Bookmark and Share       versi PDF     versi cetak
 
Komentar Pembaca:
Jumat, 4 Desember 2009 - 13:39:12
kalo aku rindu Bumen...
manteb, sayang ngga iso melu nonton
:(
Selasa, 8 Desember 2009 - 14:46:02
Semangads terus, kemarin meski hujan, pertunjukan dari Bumen pada malam pementasan PKBI di Monumen 11 Maret tetep ruame.
Name:
E-mail:
Website: (optional)
Comment 
Security Code  gj7s1 =
 
Warta Kampung Online
Banner WK  lama