Warta KampungSenin, 29 Oktober 2007
Oleh: Yoshi Fajar Kresno Murti 1. Kampung yang Selalu Bergerak Satu pengertian awal disodorkan untuk memahami kampung dalam tema pembicaraan kali ini (Apakah Kampung Kita Bersahabat dengan Anak?), yaitu semacam lingkungan basis yang menjadi areal fisik dan sosial di sekitar tempat tinggal anak, tempat anak bermain dan belajar mengenal lingkungan (fisik dan sosial) mereka. Satu hal yang ingin digali lebih dalam dari pengertian ini tampaknya mengarah untuk menekankan pada persoalan relasi spasial dan relasi sosiokultural seorang anak dalam proses tumbuh kembang perjalanan hidupnya.Maka dari itu, pembicaraan akan lebih produktif (dan kritis), jika saja, selalu ada kesadaran untuk tidak menempatkan relasi spasial dan relasi sosiokultural tumbuh kembang anak, yang kemudian dirangkum dalam kata kampung (juga sekolah dan keluarga) yang cenderung dibekukan menjadi sebuah wadah, sebuah entitas, lebih tepatnya sebagai tempat (place). Memandang kampung sebagai tempat (place), sebagai wadah, sebagai sesuatu yang sudah jadi, akan menggelincirkan diri untuk tidak mempersoalkan kampung (juga sekolah dan keluarga) sebagai representasi. Dan karena sebagai representasi, kampung (juga sekolah dan keluarga) selalu problematis. Demikian juga, menjadi sah dan kuat bagi kita untuk sampai bertanya: Bisakah suara anak menjadi representatif? Mau tidak mau, dalam langkah awal pembicaraan tema kali ini, kita akan bertemu dan melacak jejak kampung sebagai representasi. Kemudian, dapat dilihat sejauh mana konteks perubahan kampung sebagai representasi, memandang dan memperlakukan proses tumbuh kembang anak-anaknya? Demikian pula sebaliknya, sejauh mana proses tumbuh kembang anak dalam konteks perubahan kampung yang terus-menerus? Begitulah. Menggali lebih dalam relasi spasial dan relasi sosiokultur dalam proses tumbuh-kembang anak dalam lingkungan permainan, lingkungan sekitar tempat tinggalnya, paling praktis yaitu dengan melihat kampung sebuah konsep lingkungan (pertetanggaan) yang sudah berakar dikenal, meskipun juga mengandung bahaya menjadi ideologis. Kampung, hingga sampai hari ini tidak menunjukkan semacam definisi hukum yang mampu menjelaskannya. Kepadatan penduduk yang tinggi, ukuran besarnya, dan pekerjaan penduduknya adalah hal yang penting tetapi bukan kriteria yang memuaskan (Murray;1994;24). Namun, oleh Murray dalam penelitiannya di Jakarta, juga ditunjukkan bahwa yang disebut daerah kampung telah menjadi tempat tinggal sebagian terbesar masyarakat (kota) kelas bawah. Dalam bahasa kehidupan sehari-hari, kenyataan ini tersimbolkan dalam kata: kampungan. Yang mengandung stereotipe tentang pembedaan kelas, misalnya dalam hal ekonomi, selera, dan gaya hidup. Dan kenyataan puluhan tahun telah menunjukkan, kota-kota kita dibangun diatas ilusi dan fantasi tentang kejayaan kota modern. Sedangkan, kenyataan tentang berbondong-bondongnya orang menyerbu kota, mendudukinya, serta peperangannya dalam arena konflik seringkali ditinggalkan, justru dilihat sebagai sumber masalah. Jelas, selain terkait dengan masalah keruangan, kampung terkait erat dengan sejarah yang panjang, perubahan sosiokultural, ekonomi, dan politik (identitas) dalam perjalanan kita sebagai individu, anggota keluarga, anak didik sekolah, sebagai warga kota, dan sebagai bangsa, dsb, yang mewarnai persepsi, cara pandang, serta perlakuan kita terhadap kenyataan sehari-hari (termasuk terhadap anak) sampai hari ini. Proses tumbuh kembang anak tidak lain juga menjadi bagian dari sebuah gerak yang lebih besar, yaitu perubahan dan pertumbuhan kota. Maka dari itu, jika pada akhirnya kita mampu menjawab pertanyaan: Apakah Kampung Kita Bersahabat dengan Anak?meskipun jawabannya ya atau tidak, bisa berbeda-beda dalam setiap peristiwa, tempat, ruang, dan waktu, kita hanyalah bicara pada tataran pada umumnya.
2. Kampung: Antara Resistensi dan Kontrol Sekurang-kurangnya ada dua cara pandang yang terus bergerak dan dirasakan dalam keterlibatan, ketika masuk dan hidup di dunia perkampungan kota. Cara pandang pertama meletakkan diri pada argumentasi: bahwa sejarahkampung merupakan sejarah kontrol. Sedangkan cara pandang kedua, mendasarkan pada asumsi: bahwa sejarahkampung merupakan sejarah komunitas. Dalam perjalanannya, kedua cara pandang ini seringkali memperlihatkan dirinya, walaupun dalam kondisi tidak menentu, tumpang tindih, dan sporadis sifatnya. Pembedaan ini semata-mata hanya untuk kepentingan tulisan ini. Wilayah kampung yang sampai sekarang dikenal dalam kesatuan-kesatuan wilayah RW/RT, ataupun melalui lembaga-lembaga sejenis PKK, Dasawisma, Karang Taruna, dan lain sebagainya, merupakan sisa-sisa pendekatan kontrol ala militer yang dijalankan semenjak pendudukan Jepang melalui lembaga Tonarigumi (kampung), yang dibentuknya. Sedangkan, segregasi etnik misalnya, yang dijalankan pemerintahan Hindia Belanda dalam menata kota Jakarta jaman dulu, dalam beberapa kasus sekarang, masih ditemui dalam keseharian kehidupan kampung. Ini merupakan beberapa contoh, bagaimana nalar yang bergerak dalam makna kampung, mengandung pengertian sebagai sebentuk kontrol negara atau pemerintahan terhadap warganya (rakyat). Di Yogyakarta, sebutan kampung seperti yang dikenal sekarang, mempunyai sejarah yang panjang dengan terbentuknya Kraton Yogyakarta sebagai pusat orientasi kehidupan. Pembagian wilayah kampung berdasarkan atas orientasi tersebut yang tersimbolkan dalam nama-nama seperti: Suryowijayan (ikatan kekerabatan), Gamelan (ikatan profesi),dan Sagan (ikatan wilayah kekhususan,?), dan lain sebagainya, menyatukan identitas orang-orang yang tinggal didalamnya. Identitas spasial menjadi pegangan kehidupan sehari-hari individu dalam kolektifitas kampung. Walaupun sekarang, identitas spasial tersebut sudah terpecah-pecah dalam kebijakan RW/RT, seringkali ditemui sisa-sisanya dalam upaya penghidup-hidupan kembali, tentu saja dengan berbagai kepentingan yang sudah lain pula. Disinilah sejarahkampung sebagai sebuah komunitas bertumpang-tindih dengan sejarahkampung sebagai arena kontrol. Misalnya dapat ditemui sekarang dalam pembentukan lembaga atau organisasi, kesatuan, paguyuban, cabang parpol, ataupun laskar, yang mengatasnamakan/menghidupkan diri dalam identitas spasial, atau nama sebuah kampung. Namun demikian, sejarahkampung sebagai sejarah komunitas, dapat dimengerti pula sebagai suatu bentuk khusus jalinan dan jaringan orang-orang yang hidup, sebagai akibat dari proses pembagian kelas dalam masyarakat kota. Strategi-strategi (subsisten) rumah tangga, jaringan-jaringan keakraban dan kerjasama, serta pengalaman dan rasa tempat tinggal bersama, dalam sebuah wilayahpermukiman (kampung), adalah fenomena terbentuknya komunitas massa kelas bawah yang memungkinkan, dalam melawan tekanan-tekanan perekonomian, negara, dan ideologi.
3. Anak Kampung: Antara Kontrol dan Resistensi Dalam gambaran kampung sebagai ruang kontrol sekaligus resistensi dalam jaring-jaringnya yang rumit, relasi spasial dan relasi sosiokultural dalam proses tumbuh kembang anak tercipta dan direproduksi. Sejarah kampung sebagai sejarah kontrol dapat dipahami dalam kenyataannnya, tidak menyediakan ruang bagi kelompok orang yang disebut anak-anak. Selain pos yandu untuk balita, anak-anak praktis tidak mempunyai suara apa-apa di kampung. Sedangkan Karang Taruna atau organisasi pemuda kampung dibentuk lebih sebagai sarana regenerasi pengurus kampung. Dengan program Wajib Belajar dari Orde baru, seluruh gagasan orang tua adalah menyekolahkan anaknya. Sekolah menjadi ritual hidup yang harus dijalani seorang anak, meskipun ditengah jalan, sebagian besar terlempar keluar akibat beratnya beban kurikulum dan pergaulan konsumtif yang tidak toleran, serta keterasingan dengan lingkungan hidupnya sehari-hari. Sekolah menjadi orientasi yang ada di bintang (seperti slogan yang dipopulerkan oleh Soekarno: gantungkan cita-citamu setinggi bintang). Seluruh penghasilan orang tua di kampung, jika dihitung sebagian besar diperuntukkan bagi ritus sekolah ini. Artinya, ritus sekolah membawa juga perubahan terhadap pola hidup harian, gaya hidup sehari-hari. Banyak orang tua mengatakan untuk mau melakukan apa saja, asalkan anaknya dapat sekolah dengan benar. Dalam konteks sekarang, membeli TV, membeli game station, VCD player, motor, dsb, bagi orang tua, salah satu pendorongnya adalah supaya anaknya mau sekolah, mau di rumah, belajar di rumah, tidak main keluar. Sebab seringkali dibayangkan dalam keluarga Jawa, seperti yang ditunjukkan oleh Revianto dalam bukunya Omah, bahwa dunia di luar omah, adalah dunia yang tak dikenal dan tidak jelas. Demikian pula, kampung, bagi rasionalitas sekolahan, merupakan dunia yang kampungan, dunia yang buruk untuk pendidikan anak. Sekolah telah menjadi lembaga penyeleksi antara yang baik dan yang buruk, yang terpelajar atau bukan, dsb, dengan sewenang-wenang, otoriter, dan kejam. Sedangkan kampung (juga jalanan), dalam kenyataan, akhirnya menjadi penampung anak-anak yang tidak lolos seleksi ini. Rasionalitas sekolahan adalah gagasan yang pada akhirnya menumbuh suburkan sikap dan perilaku hirarkis yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak. Sikap semacam ini tentu tidak terlepas dalam suatu budaya yang menempatkan anak sebagai asset ekonomi keluarga. Dalam arti tertentu, orang tua memiliki kepentingan untuk membentuk anaknya sedemikian rupa sehingga pada gilirannya ia harus membalas budiorang tua di kelak kemudian hari. Dengan demikian anak sesungguhnya diletakkan dalam posisi nilai gunanyabagi orang tua sehingga asas kemanfaatan merupakan bagian terpenting. Dalam kata lain anak menjadi instrumen (alat) untuk bisa memenuhi keinginan (rasionalitas) orang tua. (Lono Lastoro; 1999). Relasi hirarkis yang meletakkan diri dalam semangat nilai guna inilah, yang kemudian diadopsi dalam pergaulan sehari-hari anak di kampung. Siapa menang ngongkon siapa (yang kalah). Di satu sisi, pengalaman-pengalaman interaksi sosial dalam space yang begitu sempit dan rapat jelas sangat bertolak belakang dengan pengalaman di sekolahan. Kampung, seperti halnya dengan jalanan, seringkali menjadi tempat yang nyatauntuk bertemu dan menghadapi hidup sehari-hari yang menekan, meskipun bisa memakan anak-anaknya sendiri. Inilah ciri kemenduaan kampung sebagai wilayah tumbuh kembang anak dalam menjalin relasi spasial maupun relasi sosiokultur. Satu sisi, desain spasial kampung terkoyak dalam kotak dan batas-batas administratif. Sisi yang lain, keberadaan anak-anak justru merombak itu semua, melintasi batas-batas dan kotak tersebut. Meskipun, jalinan antar anak ini di satu sisi menghidupkan komunikasi lintas batas, serentak dengan itu, pengalaman-pengalaman interaksi di sekolah, di keluarga, di jalanan, di pertokoan, dsb, selalu bertemu dan diajari dengan batas-batas tersebut.
4. Kampung Anak Kampungan Dalam situasi anak kampung yang ambigu demikian, yang merupakan potret relasi spasial dan relasi sosiokultur tumbuh kembang anak di sebuah wilayah yang disebut: kampung, mau tidak mau harus kita ajukan pertanyaan kembali: Bisakah suara anak menjadi representatif, sehingga dapat menjamin tumbuh kembang hidupnya? Sehingga ia bisa merepresentasikan kampung? Meskipun masih banyak persoalan dalam mencari makna suara anakserta masalah representasi anaksebagai jalan tengah bisa diajukan pertanyaan: Sebenarnya persoalan apa yang mengungkung kita semua, yang mengungkung kampungkita semua? Sebuah contoh kasus berikut, barangkali bisa menjadi ilustrasinya. Dalam sebuah penelitian kesehatan 2 tahun yang lalu, saya menemukan kecenderungan semakin banyaknya orang mengobatkan anaknya yang masih bayi, sakit yang menangis terus, ke orang pintar. Yang menarik dari kasus ini adalah pada cara pengobatan yang dilakukan oleh orang pintaryang banyak tersebar di kampung-kampung, serta efek yang ditimbulkan dari cara pengobatan itu. Bukan berarti orang pintartersebut lebih pintar dari dokter, tetapi banyak cara yang dilakukan dalam pengobatan seperti membuat sajen, bancakan (selametan), dan ndonga - japa mantra, ternyata lebih dapat memasuki wilayah persoalan hubungan (komunikasi) antara anak dan orang dewasa. Dengan cara pengobatan yang dilakukan si orang pintar, seolah menghadirkan kembali semacam ritual untuk kembali memperhatikan anak, ditengah beban hidup yang semakin berat. Dengan tangisan, anak yang masih bayi membahasakan diri melalui suaranya, meskipun kedua orang tuanya tidak akan mengerti apa maksudnya, namun ritual pengobatan yang dihadirkan si orang pintar(meskipun ia juga tidak tahu), tepat menusuk satu wilayah persoalan yang dihadapi anak-anak maupun orang dewasa jaman sekarang: komunikasi. Namun, seperti dikatakan oleh Adidananto beberapa tahun yang lalu: kalau persoalannya karena anak menggunakan cara mengungkapkan sesuatu secara berbeda seperti contoh kasus yang diajukan, sehingga tidak kita pahami. Maka, solusinya kita harus belajar banyak dari kamusanak-anak. Akan tetapi kalau persoalannya pada wilayah yang lain, bukan sekedar proses penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa yang lain, lebih dari itu, yang diperlukan adalah niat bersama untuk melihat persoalan tersebut adalah yang melingkungi kita semua, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Tapi bagaimanakah caranya?
[Penulis adalah Koordinator Divisi Kampung Permagangan YPR)
|