Bahasa Indonesia | English | French
 

Riset

Selasa, 10 November 2009

Pada hari Minggu, 8 November 2009 aterdapat dua jenis acara yang diselenggarakan yang menjadi bagian Acara Srawung Kampung . Kedua acara tersebut ialah ”Workshop Mengenal Lingkungan Hidup” yang diselenggarakan bersama Komunitas Peta Hijau Yogyakarta dan ”Pustaka Tiban” yang menggandeng komunitas 1001 Buku, ICBC, PKBI,  BIBLIO, Mobil Perpustakaan Keliling Galang Press, dan Mobil Perpustakaan Keliling USC Satunama.

Pukul sembilan pagi panitia menyiapkan pendopo yang akan dijadikan tempat workshop dan lapangan yang akan menjadi area Pustaka Tiban. Saat itu pula panitia mengingatkan warga lewat pengeras suara di masjid untuk menghadiri acara Srawung Kampung hari ini. Setelahnya, empat orang anggota Komunitas Peta Hijau Yogyakarta datang. Mereka adalah Lieke, Sita, Inung, dan Vincent.

Sembari menunggu acara yang belum dimulai, kami sempat berbincang mengenai Komunitas Peta Hijau. Sedikit mengenai Komunitas ini, mereka terbentuk mulai tahun 1995 di Amerika. Kini, Komunitas Peta Hijau alias Green Map sudah dibentuk di 50 negara termasuk Indonesia. Cara kerja yang digunakan Peta Hijau adalah menandai peta wilayah dengan melibatkan native atau penduduk asli dari wilayah yang akan ditandai (diberi icon). Tanda-tanda (icon) yang digunakan berdasar pada tiga aspek, yaitu: Sustainable Living, Nature, dan Culture & Society.

Setelah berbincang sejenak mengenai ide, tujuan, dan metode yang digunakan, kami menyadari bahwa peserta workshop sudah terkumpul sebelas orang. Mereka adalah warga Bumen yang prioritas bapak-bapak, ada seorang ibu yang juga mengikuti workshop ini.

Di awal workshop, Sita bercerita tentang Komunitas Peta Hijau Yogyakarta dan memperlihatkan portofolio berupa semacam katalog wilayah Kotagede dengan deskripsi potensi tiga aspek di atas. ”Peta ini dibuat tahun 2004, memang mestinya ada pembuatan ulang karena tentu sudah banyak yang berubah.”, ujarnya.

Sepuluh peserta kemudian terbagi menjadi dua kelompok. Peserta yang sudah terbagi ini kemudian dihadapkan pada peta buta Kampung Bumen yang dibuat di tahun 2009 oleh Maria Adriani, seorang relawan YPR yang telah menuntaskan studi strata 2 nya di prodi desain arsitektur. Kelompok pertama menandai peta bersama Lieke dan Inung. Kelompok ke dua difasilitatori Sita dan Vincent. Setelah kurang lebih dua jam kami berdiskusi, setiap kelompok mempresentasikan tanda yang ditemukan lewat diskusi tadi.

Kelompok pertama lebih mengarah pada sejarah Kampung Bumen tentang pahitnya kondisi setelah tahun 1965 dan bagaimana Bumen berkembang setelahnya. Kelompok ke dua yang terdiri dari generasi yang lebih muda dari kelompok pertama, lebih cenderung menandai peta berdasarkan kondisi fisik yang terlihat, contohnya adalah tanda yang diberikan pada rumah-rumah penduduk yang memproduksi makanan khas Bumen berupa kembang waru.

Workshop yang berlangsung selama lebih kurang tiga jam ini menunjukkan banyaknya cerita dan potensi yang ada di Kampung Bumen. Beberapa peserta sempat bernostalgia dengan cerita berubahnya penataan wilayah kampung sejak dulu sampai sekarang. Begitulah kami menemukan sejarah yang diceritakan lewat menandai sebuah peta. Mungkin sebaiknya ini dituliskan bersama peta yang dapat menunjukkan cerita-cerita itu pernah ada di Bumen.

Bookmark and Share       versi PDF     versi cetak
 
Komentar Pembaca:
Senin, 22 Februari 2010 - 15:30:22
lebih baik lagi kalau hasilnya diposting disini (Peta nya),.. terima kasih.
Name:
E-mail:
Website: (optional)
Comment 
Security Code  9rkpb =
 
Warta Kampung Online
Banner WK  lama