RisetSenin, 17 Agustus 2009
Wacana kota-kota Postcolonial menarik untuk dikaji. Salah satu buku yang patut dikaji adalah buku Postcolonial Urbanism Southeast Asian Cities and Global Processes yang diedit oleh Ryan Bishop, John Phillips, dan Wei Wei Yeo (Routledge, 2003). Selama kurang lebih 2 bulan dari Bulan Juni – Juli, teman-teman KKN alternatif USD angkatan VIII telah membaca dan menterjemahkan sebagian bab terpilih buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Kamis, 13 Agustus 2009, mereka membagikan hasil bacaan dan terjemahan buku tersebut di hadapan staf dan para volunter YPR, dan dosen pembimbing dari USD di Muara Kapuas, Ngaglik, Sleman. Pengalaman membaca dan menterjemahkan teks buku ini, temen-temen KKN (Sita, Arin, Inkan, Vika, dan Rina) mendapatkan pengalaman yang cukup unik. Materi-materi buku ini menantang dan mendatangkan kesulitan tersendiri. Terutama saat menghadapi istilah konseptual khusus yang tidak ada dalam kamus. Meskipun demikian, pengalaman ‘membaca’ buku post kolonial ini dapat membuka perspektif mereka, sebagai mahasiswa sastra Inggris, terhadap realitas ‘teks’ yang sangat beragam. Membaca buku ini diajak menelisik jauh ke ruang-ruang kota Asia di tingkah globalisasi dengan berbagai problem peliknya. Ingatan kita diajak untuk masuk lebih dalam ke persoalan-persoalan bawah sadar kenyataan kota masa kini yang luar biasa heterogen dan pelik. Seperti yang dibagikan oleh Sita yang menterjemahkan salah satu bab tentang kota-kota di India yang mengalami penjajahan. Masa Post Kolonial, kota-kota di India terlihat jelas mengalami percampuran budaya, antara budaya penduduk asli dan budaya kolonial. Fakta ini bisa dilihat dari bentuk arsitek bangunan, budaya, dan bahasa mereka. Sita juga berkisah bagaimana proses menterjemahkan teks tema Postcolonial Urbanism, cukup asing dan memberikan pembelajaran tentang banyak hal. Belajar bagaimana memahami suatu teks dengan benar, bagaimana memahami pesan dan makna yang disampaikan oleh teks tersebut, dan belajar memahami dan menangkap pesan teks dengan benar. Lebih jauh, pengalaman Arin saat membaca tentang tulisan bencana dan terrorisme bagaimana kota sebagai sasaran, baik sasaran bencana alam, seperti gempa bumi, angin topan, dan banjir, hingga kota menjadi sasaran imigrasi (legal maupun ilegal), ekonomi, dan pengeboman seperti yang terjadi pada World Trade Center. Selain itu, kota menjadi pusat beraneka ragam kegiatan untuk memajukan perekonomian. Perkembangan perekonomian kota-kota tesebut terlihat di Kota Pilipina, yang bergerak dari kota modern menjadi kota hipermodern. Seperti adanya EPZ (Export Processing Zone) di Filipina yang ingin membuat daerah bebas bea masuk bagi barang-barang ekspor dan daerah perdagangan bebas, sehingga perekonomian mereka pun berkembang. Kisah-kisah gerak kota urban Asia semakin menarik, saat diskusi sampai pada pembacaan yang dilakukan oleh Inkan. Inkan, yang asli Jakarta, menuturkan pembacaannya tentang salah satu fenomen kota tentang kehidupan para gay (homo) di Thailand mencari identitas, membentuk komunitas, dan berusaha tidak terpengaruh oleh gaya hidup gay Barat. Yang menarik gaya hidup gay ini bisa yang mempengaruhi tata ruang Bangkok. Pada bagian lain, Inkan menceritakan tentang Jakarta yang merupakan kota metropolitan yang mengalami fragmentasi yang luas sekali, sehingga dapat dibagi menjadi 12 bagian. Pembagian ini merupakan pengaruh globalisasi dari adanya berbagai macam kepentingan dari berbagai aspek kehidupan sosial, politik dan budaya. Buku ini juga memotret tentang kisah irrasionalitas pada komunitas barat, tentang London yang ternyata memiliki kepercayaan terhadap hantu. Sebuah tulisan tentang Vampire dikisah Vika. Poskolonialitas diibaratkan seperti vampirisme yang meskipun sudah dibasmi berkali-kali namun masih akan tetap terus bangun lagi meskipun harus menunggu selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Vika juga menyinggung tentang proyek Arcades karangan Benjamin Walter yang disandingkan dengan pendekatan-pendekatan lain yang berisi tentang tata kota post kolonial. Pada bagian akhir, Rina banyak bercerita tentang kesulitan-kesulitannya selama proses terjemahan. Kesulitan yang Ia rasakan terutama karena backgroundnya yang berbeda dengan teks yang diterjemahkan. Kesulitan kedua adalah begitu kompleksnya kalimat-kalimat dalam teks tersebut, bahkan ada satu paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat. Demikian, hasil pembacaan tentang kota-kota post kolonial di Asia Tenggara oleh temen-temen KNN alternatif. Sebuah pengalaman yang ‘memperkaya’ perspektif tentang sebuah wacana realitas kota yang berkembang pesat dari sebuah masa yang disebut sebagai ‘esoknya masa lalu’. Suatu refleksi kritis tentang kenyataan kota-kota Asia Tenggara masa kini. Hasil terjemahan, bab-bab terpilih ini rasanya bisa membantu kita memahami dinamika kota post kolonial. |