Bahasa Indonesia | English | French
 

Oleh - oleh

Senin, 29 Januari 2007

Seluruh orang tua merasakan kebutuhan bahwa dana untuk pendidikan pada masa-masa seperti sekarang sangatlah besar. Beberapa anak kampung yang mendapatkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) pun harus membeli buku (yang sudah ditentukan), membayar les, kemah, perpisahan atau yang lainnya. Bagi siswa kelas 1, ia harus melunasi uang gedung (untuk swasta) sebelum bisa ikut ujian. Kenyataan ini membuat warga kampung harus pontang-panting mencari uang dan ‘utangan’. Beruntung, koperasi bunga padi RT 48 Kampung Badran cukup terbantu setelah mendapatkan bantuan dana pendidikan dari Yayasan Pondok Rakyat. Koperasi ibu-ibu yang berdiri tiga tahun lalu ini sebelumnya telah berkembang dengan cukup baik, namun dalam pengembangannya mereka memang belum secara khusus memberikan perhatian pada pendidikan anak-anak.

Keberadaan program saving for education dari YPR memberikan pengaruh yang positif pada perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Dari awal berdirinya kelompok ini hanya beranggotakan 15 orang hingga sekarang telah lebih dari 70 kk yang secara langsung terbantu lewat simpan pinjam. Penarikan tabungan dan angsuran dilakukan setiap hari oleh pengurus yang berkeliling kampung, dengan jangka pinjaman waktu 3 bulan. Ini menjadi penting manakala disadari para orang tua tidak menaruh perhatian pada anak-anaknya, baik prestasi di sekolah maupun pendidikannya. Mereka baru akan sadar ketika menerima raport dan beberapa nilainya jauh dari yang diharapkan, tentu saja yang dilakukan adalah marah pada anaknya. Sanggar dengan program ini bergerak bersama untuk memberikan perhatian pada hal ini. Sementara di sisi lain agar anak-anak bisa bermain sambil belajar (satu hal yang tidak didapatkan dari sekolah ), lebih kreatif, terbuka dan menikmati dunianya melalui beberapa media(bercerita, dolanan, teater boneka).

Program serupa juga sedang dan akan dilakukan untuk dua komunitas lain, yakni Paguyuban Pemulung dan Komunitas isteri-isteri Pengamen. Akhir bulan ini dana program saving for education akan segera turun pada dua kelompok ini. Untuk yang pertama, paguyuban pemulung RW 4 kampung Sidomulyo. Paguyuban ini telah berdiri sejak tahun 1997, namun sejak tiga tahun yang lalu paguyuban yang beranggotakan mayoritas ibu-ibu ini mengalami kelesuan dan tidak berkembang. Selama tiga tahun ini keanggotannya menurun dari 45 anggota menjadi 38 anggota. Pinjaman di sini berjangka waktu 3 bulan, dengan pengangsuran setiap bulan pada saat pertemuan.

Sedang untuk kelompok yang terakhir, koperasi isteri-isteri pengamen kampung Badran. YPR ikut membidani kelahiran kelompok ini. Diawali sejak satu tahun yang lalu ketika melakukan advokasi untuk P3B (Paguyuban Pengamen Pasar Beringharjo), muncul juga ide untuk mewadahi isteri-isteri pengamen (yang juga sebagian menjadi pengamen) untuk mendirikan kelompok. Bulan Agustus 2006 lalu, Koperasi isteri-isteri Pengamen (KiiP) ini terbentuk dengan gerakan pertama tabungan pendidikan dan simpan pinjam. Tabungan pendidikan yang mereka gagas akhirnya meluas ke tabungan kesehatan bagi ibu-ibu yang tidak lagi memiliki anak bersekolah. Kedua tabungan ini minimal angsuran Rp. 500 setiap harinya. Sementara untuk simpan pinjam mereka lebih dahulu menanam saham sebanyak Rp. 10.000, dengan anggota sebanyak 14 orang. Sampai saat ini dana yang berhasil dikelola telah ada sekitar Rp. 800.000 (ninol).

 

Bookmark and Share       versi PDF     versi cetak
 
Warta Kampung Online
Banner WK  lama