Oleh - olehSabtu, 1 Agustus 2009
Kejutan pertama diakibatkan oleh betapa hebatnya skill craftmanship orang kotagede yang mampu menjadikan lengkungan kawat menjadi miniatur harley davidson dalam satu hari tanpa bantuan mesin canggih. Mereka bekerja menggunakan passion yang dibarengi dengan keterbatasan dan kesederhanaan teknonologi yang mereka punya. Seperti kata pepatah yang mungkin sangat tidak terkenal “keterbatasan adalah fasilitas untuk meningkatkan kreatifitas” kata itu pernah terucap oleh salah seorang akademia Jogja yang juga tinggal di kotagede.
Lidah adalah indera pembohong yang paling tidak bisa bohong untuk menafsirkan rasa. Itulah yang terjadi ketika merasakan nimatnya kue kembang warunya Lek Bashiran, nama sesepuh penggila kesenian yang pada tahun lalu mendapatkan anugerah seni dari yayasan Kanthil yogyakarta. Kue yang sering didapatkan saat ada acara syukuran pengantin, sunatan, dan seremoni lainnya yang biasanya diwadahi dengan kardus ditemani ubo rampe seperti lego moro ini ternyata sangat lezat ketika dinikmati langsung setelah keluar dari oven arang, sehingga masih hangat sembari minum teh nasgitel dan diiringi cerita dari Lek Bashiran tentang segala sesuatu tentang Desa Bumen (nama desa di mana Lek Bashiran tinggal). Sangat berbeda ketika kita menikmati kue kembang waru dalam keadaan dingin yang bikin haus dan serak tenggorokkan. Pengalaman ini membuat kami berangan-angan bagaimana rasanya jika kue ini telah ditaburi coklat hangat diatasnya atau keju yang lezat…pasti rasanya fantastis… Setelah kenyang maka perjalanan dilanjutkan mengamati tata letak rumah-rumah joglo, dimana dalam umah joglo tersebut ditempatkan guidelines yang sudah paten. Seperti adanya senthong, pawon, dan sebagainya. Ada juga yang memiliki semacam bunker sebagai tempat penyimpanan barang berharga. Selain rumah, ada juga bangunan yang meskipun telah runtuh tapi karena bekasnya masih terlihat megah dan berwibawa maka kenangan tersebut dapat membawa theatre of mind kami menuju pada zaman dimana benteng itu masih bediri. Benteng itu bernama Bokong Semar. Benteng ini mengelilingi kompleks kerajaan Panembahan Senopati yang sangat luas.
Kotagede adalah kota tua yang masih menyimpan warisan nilai luhur yang sangat arif. Seperti turun dari sepeda ketika hendak belok, orang yang lewat menghormati orang yang sedang duduk di pinggir jalan dan sebagainya. Budaya luhur ini masih sering kita temui di kawasan-kawasan yang dekat dengan pedesaan. Sebagai pelepas lelah, kami mengistirahatkan badan dan fikiran di kompleks Masjid Besar Mataram. Dimana tempat tersebut cukup sejuk oleh rindangnya pohon beringin raksasa yang cukup banyak mensuplai kebutuhan O2 disekitarnya. Setelah energi telah kembali dan fikiran kembali segar, kami kembali melanjutkan perjalanan akhir, yaitu ke sekretariat Yayasan Kanthil Kotagede untuk melakukan evaluasi dan makan siang. Perjalanan yang cukup melelahkan tersebut ternyata hanyalah bagian kecil dari bagian kecil apa-apa yang sesungguhnay terdapat di Kotagede. Masih banyak hal-hal tersembunyi yang belum terkuak dari Kotagede. Seperti resep rahasia kipo, misteri orang kalang, eksotiknya rasa es kacang ijo Sido Semi dan lain-lain. Semoga pada kesempatan lain kami dapat melanjutkan perjalanan ini, sehingga menemukan lebih banyak hal-hal kecil namun luar biasa yang bisa kita banggakan untuk Kotagede khususnya dan Indonesia umumnya..amiin..Ganbatte!! Ditulis oleh Bima Surya - Peserta Kelas Bahasa Jepang |